Seorang dosen Institut
Pertanian Bogor (IPB) sedang mengembangkan tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus
L) melalui diversifikasi produk untuk bahan baku pulp atau bubur kertas.
Menurut Dr. Ir. Dede Hermawan, sang pengembang, tanaman Kenaf
mempunyai peranan yang cukup penting bagi perekonomian Indonesia. "Batang kenaf secara teknis merupakan penghasil pulp mutu
tinggi dibanding dengan bagas (ampas tebu) tetapi sedikit di bawah mutu pulp
kayu pinus," katanya di Bogor, Ahad (17/6).
Kenaf
merupakan salah satu jenis tanaman penghasil serat selain rosela (Hibiscus
sabdariffa) dan yute (Corchorus capsularis).
"Serat yang dihasilkan Kenaf biasa digunakan untuk bahan
baku pembuatan karung goni sebagai pengemas hasil pertanian, seperti: gula,
gabah, beras, kopi, kakao, kopra, lada, dan cengkeh. Selain itu, serat kenaf
juga digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan doortrim mobil,"
katanya.
Menurut Dosen di Departemen Teknologi Hasil Hutan IPB, upaya
strategis untuk mempertahankan eksistensi tanaman kenaf di Indonesia adalah
dengan diversifikasi produk. Peluang diversifikasi yang relevan dengan
keadaan sekarang adalah untuk bahan baku pembuatan pulp. Selain sebagai bahan baku pulp untuk papan serat dan kertas,
bagian dalam batang (core) kenaf juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
papan partikel board.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagian besar bahan baku pulp
diperoleh dari hutan alam yang sudah semakin habis dan hutan tanaman industri
(HTI) yang baru siap ditebang pada umur 6 - 7 tahun. "Selama HTI tersebut belum menghasilkan, maka tanaman
semusim seperti kenaf sangat berpeluang untuk dipergunakan sebagai bahan baku
pulp," ujarnya. Dijelaskannya, batang kenaf mempunyai kadar holoselulosa dan alfaselulosa
yang sangat sesuai untuk pulp, di mana kadar lignin dan pentosan yang jauh
lebih rendah dari bahan ligno-selulosa lainnya. Sehingga kebutuhan bahan
kimia untuk larutan pemasakan juga lebih rendah. Keunggulan dari pemanfaatan batang kenaf, lanjut Dede, yakni
umurnya yang pendek, yaitu antara 4 hingga 4,5 bulan. Kenaf dapat ditanam
sepanjang tahun.
Selain itu, Kenaf dapat diusahakan pada lahan banjir, irigasi
dan tadah hujan. Serta dapat juga diusahakan secara tumpang sari dengan
tanaman jagung, cabe, dan sisa-sisa daun dapat digunakan sebagai pakan
ternak. Namun, ungkapnya, bila penyimpanan kurang baik, batang mudah
lapuk dan terserang cendawan dan untuk penanaman kenaf diperlukan perkebunan
benih khusus. "Benih yang dibutuhkan untuk penanaman serat sebanyak 15
kg per hektare," tambahnya.
Diungkapkannya, dari penelitian yang dilakukannya, batang
kenaf terdiri dari sekitar 40 persen lapisan tipis bagian luar dan sekitar 60
persen bagian inti yang sangat ringan. Bagian inti (core) kenaf memiliki kerapatan sekitar 100-200
kilogram per meter kubik dengan serat yang lebih pendek dari pada bagian
luar. "Kenaf bagian core ini masih belum termanfaatkan. Pada
industri serat kenaf, core kenaf merupakan hasil ikutan (by-product) yang
dihasilkan dari industri tersebut, dan biasanya hanya dijadikan kayu bakar
oleh petani," jelasnya. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari
tanaman kenaf, lanjut Dede, dilakukan beberapa penelitian pembuatan papan partikel
dengan menggunakan core kenaf. Dede telah melakukan beberapa penelitian di laboratorium
Bio-komposit, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB diantaranya
pembuatan papan partikel dari berbagai ukuran core kenaf dengan variasi
target kerapatan papan.
Pembuatan papan partikel pada berbagai kadar parafin,
pembuatan balok laminasi dari partikel core kenaf, pembuatan papan partikel
core kenaf tanpa perekat, dan pembuatan papan semen-gypsum dari core kenaf
dengan teknologi pengerasan autoclave.
Khusus mengenai papan semen, lanjut Dede, teknologi yang
dikembangkan adalah dengan memanfaatkan CO2 dalam proses pengerasan semen.
Teknologi konvensional memerlukan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu untuk
mengeraskan semen, akan tetapi dengan menggunakan pengerasan CO2 hanya
memerlukan waktu sekitar 60 menit dengan kekuatan meningkat hampir tiga kali
lipat.
"Keuntungan lain dari teknologi ini adalah dimungkinkan
memanfaatkan CO2 dari cerobong asap industri, sehingga udara menjadi
bersih," ujarnya. Dede menambahkan, hasil penelitian yang dilakukannya
menunjukkan bahwa core kenaf dapat digunakan sebagai bahan baku papan
partikel dengan kualitas yang baik. Selain itu, para ahli otomotif Jepang
telah melirik serat kenaf sebagai bahan baku pembuatan doortrim mobil. "Di Jepang dan Amerika, serat kenaf banyak digunakan
untuk lapisan dalam mobil dan kursi mobil-mobil mewah. Dan salah satu papan
partikel ini sudah diuji-coba oleh PT. Toyota Boshoku Indonesia sebagai bahan
baku pembuatan doortrim mobil," katanya.
Sumber :
http://fateta.ipb.ac.id/index.php/Berita-Terbaru/dosen-ipb-kembangkan-kenaf-untuk-bahan-baku-pulp
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar